Majalah Budaya
Kisah sejarah, warisan lisan, seni diaspora, dan kuliner legendaris. Dedicated to documenting Dutch-Indo experiences and preserving the profound, historic legacy of the **Afro-Indo (*Belanda Hitam*)** community from Elmina to Java and the Netherlands.
Berbincang dengan Kwame Ruhulessin: tiga benua dalam satu pasfoto
Keturunan Belanda Hitam di Vianen tentang foto dalam kaleng biskuit, pertanyaan di halaman sekolah, dan menolak memilih.
Berbincang dengan Sari Rademaker: menghitung sampai dua puluh dua dalam bahasa Melayu
Juru masak rumahan dari Den Haag tentang spekkoek yang tak pernah ditulis omanya — dan perdebatan soal pala yang menjaganya tetap hidup.
Kawung: Batik yang Dahulu Terlarang bagi Rakyat Biasa
Empat kelopak, satu pusat — dan titah keraton abad ke-17 yang melarangnya di luar istana.
Maluku 1951: Tinggal Sementara yang Menjadi Selamanya
Dua belas ribu lima ratus prajurit Maluku dan keluarganya diberi tahu bahwa mereka akan berada di Belanda selama enam bulan.
Spekkoek: Dua Puluh Dua Lapis Kesabaran
Kue seribu lapis yang mengubah dapur Desember menjadi parlemen keluarga.
Brussel 1958: Malam Ketika Indo-Rock Membakar Eropa
Di World Expo, empat bersaudara dari Surabaya memainkan gitar dengan gigi, di belakang kepala, di lantai — dan menciptakan sebuah genre.
Melati: Bunga Kenangan dan Kelahiran Kembali
Mengapa Jasminum sambac berkelopak lima tetap menjadi lambang suci ketangguhan bagi keturunan Indo.
Belanda Hitam: Jejak Prajurit Afrika yang Melahirkan Komunitas Indo
Antara 1831 dan 1872, sekitar 3.000 prajurit Ghana berlayar ke Jawa. Menelusuri sejarah keluarga mereka dari Purworejo hingga Belanda.
Bunga Melati Putih
Bunga Melati (Jasminum sambac) adalah lambang kesucian, ikatan batin, dan kebangkitan kembali komunitas Indo. Disematkan setiap tanggal 15 Agustus pada Peringatan Indis di Belanda untuk mengenang para korban Perang Pasifik serta menghormati ketangguhan budaya diaspora Indo.
Tokoh-Tokoh Indo Ternama
Para perintis musik cadas, aktivis lingkungan, pahlawan sejarah, dan sastrawan yang mengharumkan nama Indo di mata dunia.
Melati Wijsen
Aktivis Muda & Pendiri Bye Bye Plastic Bags
Lahir di Bali dari ibu berdarah Jawa-Indonesia dan ayah Belanda. Melati memulai gerakan lingkungan di usia 12 tahun melalui "Bye Bye Plastic Bags" dan Youthtopia, berbicara di forum PBB dan World Economic Forum.
The Tielman Brothers
Pelopor Musik Indo-Rock & Rock and Roll Belanda
Berasal dari Surabaya dan hijrah ke Breda pada 1957. Empat bersaudara Tielman memukau Eropa dengan atraksi panggung spektakuler, memainkan gitar di belakang kepala dan dengan gigi jauh sebelum era Jimi Hendrix.
Eddie & Alex Van Halen
Legenda Gitar Dunia & Rock and Roll Hall of Fame
Lahir di Amsterdam dari ibu berdarah Indo bernama Eugenia van Beers asal Rangkasbitung, Jawa. Eddie merevolusi teknik bermain gitar elektrik dunia dan menjual lebih dari 80 juta album bersama Van Halen.
Jan Kooi
Kesatria Militaire Willems-Orde dari Komunitas Belanda Hitam
Prajurit asal Elmina (Ghana) yang bergabung dengan KNIL pada 1869. Dikenal atas keberanian luar biasa dan dianugerahi gelar kesatria Militaire Willems-Orde. Potret resminya diabadikan di Museum Bronbeek.
Wieteke van Dort (Tante Lien)
Ikon Budaya dan Pelestari Pusaka Komunitas Indo
Lahir di Surabaya. Lewat karakter legendaris "Tante Lien", lagu-lagu kerinduan, dan panggung teater, ia merawat kehangatan bahasa dan kuliner Indis bagi ratusan ribu keluarga repatriat.
Marion Bloem
Sastrawan Terkemuka & Suara Generasi Kedua Diaspora Indo
Novelis dan pembuat film dokumenter terkemuka. Karyanya "Geen gewoon Indisch meisje" (1983) menjadi tonggak sastra diaspora tentang identitas dan memori kolektif generasi kedua.
Giovanni van Bronckhorst
Kapten Timnas Belanda di Final Piala Dunia & Juara Liga Champions
Lahir di Rotterdam dengan darah campuran Indo dan Maluku. Menjadi kapten Timnas Belanda hingga Final Piala Dunia 2010 dan mencetak salah satu gol jarak jauh terindah dalam sejarah sepak bola.